MAS KOMPOS YANG NGETOP

Kulitnya memang hitam. Karena nggak pernah mandi, badannya memang bau nggak enak. Kalau orang ketemu dengannya pasti akan menghindar sambil menutup hidungnya. Tapi orang-orang yang mengenalinya pasti merindukannya setengah mati, sebab mas Kompos ini sebenarnya adalah artis yang sedang naik daun, ya daun kering, ya daun basah.

Hasil gambar untuk gambar michael jackson


Nggak kalah dengan CD-nya Michael Jackson yang diputar di rumah-rumah dan kantor-kantor, demikianlah mas Kompos juga selalu hadir di rumah-rumah dan kantor-kantor, di pot-pot bunga, pasti di sanalah mas Kompos biasanya nongkrong.

Mas Kompos memang artis yang serba bisa. Bisa menghibur bunga, bisa menghibur buah, bisa menyenangkan sayur, bisa mengenyangkan perut ternak, bisa sebagai ranjangnya ikan-ikan, bahkan kalau di kota-kota besar, mas Kompos bisa menciptakan listrik. Jadi, kemampuan mas Kompos itu selain untuk bidang pertanian dan peternakan, juga untuk membangkitkan energi listrik. Padahal mas Kompos itu dilahirkan dari keluarga yang hina, yaitu sampah-sampahan.

Anehnya, justru para petani dan peternak di desa-desa tak ada yang mengenalinya. Di desa-desa mas Kompos ini dibuang-buang, disia-siakan. Tapi di kota-kota besar, para insinyur pertanian justru bisa mendayagunakannya secara maksimal. Orang-orang kota justru menaruh perhatian yang besar terhadap persampahan. Sebab di kota-kota besar pemerintah dibuat pusing oleh ulah sampah yang terus-menerus menggerogoti ruang dan keuangan pemerintah. Seluas berapapun lahan pembuangan sampah, selalu dibuat kurang, seolah-olah sampah bisa bertelur, bisa beranakpinak.

Rupanya tradisi ilmu pengetahuan selalu diawali dari suatu permasalahan. Misalnya, banyaknya orang sakit menciptakan ilmu kedokteran. Udara panas menciptakan AC, lambatnya keretaapi zaman dulu menciptakan keretaapi super cepat, dan lain-lainnya. Demikianlah sampah yang memusingkan itu pada akhirnya membuat orang memperhatikannya; Mungkinkah sampah bisa dijadikan barang berharga? Ternyata bisa!

Di desa sampah tak pernah menimbulkan masalah. Ruang kosong di desa terbentang luas sehingga seberapapun sampah dibuang tak pernah menjadi suatu masalah. Karena itu para petani dan peternak pedesaan tak tertarik untuk memikirkannya. Mereka santai-santai aja sampai para petugas pertanian dan peternakan menjangkau mereka untuk diberikan penyuluhan tentang manfaat sampah.

Hasil gambar untuk gambar tanaman rumah

Selidik punya selidik ternyatalah di dalam sampah terkandung zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh hewan-hewan ternak dalam sebuah siklus kehidupan. Sampah dimakan cacing, cacing dimakan ikan, ikan dimakan manusia. Sampah menjadi pupuk tanaman, kita memakan hasil tanam-tanaman. Buah apapun yang kita makan, yang kita bilang mengandung vitamin, itu makanannya dari dalam tanah dan lingkungan pergaulannya adalah cacing-cacing. Bahkan kalau anda menggoreng menggunakan minyak goreng, minyak goreng itu dibuat dari kelapa sawit yang hidupnya di rawa-rawa yang airnya kita sebut kotor.

Hasil gambar untuk gambar siklus kehidupan

Jadi, sampah itu berguna bagi yang tahu menggunakannya. Bagi yang nggak ngerti ya tetap saja itu sampah biasa yang tak berguna.

Kemarin kita telah berkenalan dengan Probiotik yang saya sebut sebagai hal yang perlu dikenali pertama-tama sebelum melangkahkan kaki ke dunia pertanian dan peternakan. Sekarang kita berkenalan dengan pupuk kompos. Kalau pupuk kompos kita beli jadi di toko-toko pertanian, kita tak perlu mengenali probiotik. Tapi jika kita ingin membuatnya sendiri, maka di sinilah kita memerlukan kehadiran probiotik, sama seperti ragi yang kita perlukan untuk pembuatan tape. Nggak ada ragi nggak ada tape, nggak ada probiotik nggak ada kompos.

Hasil gambar untuk gambar pupuk kompos


Tapi apakah kompos itu?

Menurut kamus bahasa Indonesia, kompos adalah pupuk campuran dari bahan organik, seperti daun, jerami dan kotoran hewan. Jelasnya, menurut saya kompos adalah pupuk dari bahan sampah atau yang dianggap sampah.

Di Ngrimbi, di tempat saya ini, hampir semua tanah dipenuhi dengan daun-daun kering. Ketika itu hendak saya bakar, ada orang yang mengingatkan: "Eit, jangan bakar dulu, itu bisa dijadikan pupuk kompos". Hah?! Bagaimana caranya?

Kumpulkan daun-daun kering itu, remas-remaslah sampai hancur, campuri dengan buah-buah atau sayuran busuk, sirami dengan probiotik, tutupi dengan terpal, seperti pembuatan tape yang harus ditutupi daun pisang rapat-rapat, supaya terjadi proses kimiawi yang disebut fermentasi, maka esok itu sudah menjadi kompos. Pakailah separuh untuk memupuk tanaman, sedangkan sisanya adalah indukan yang jika dicampuri dengan bahan-bahan baru, maka bahan-bahan yang baru itu akan terfermentasi juga, sehingga menjadi banyak kembali.

Seberapakah ukurannya? Jika probiotiknya membeli dari pabrikan, di sana ada keterangan pemakaiannya. Tapi jika probiotiknya membikin sendiri, jika sampahnya banyak gunakan probiotik yang botol Aqua besar, jika sedikit pergunakan yang botol kecil saja. Tolok ukurnya adalah sampah itu tidak berbau, maka itulah ukuran probiotik yang benar. Jika masih berbau busuk tanda kurang atau kurang merata penyiramannya, jika berbau alkohol tanda kebanyakan probiotiknya. Silahkan dicari kebenarannya dari pengalaman anda sendiri.

Tumpukan sampah organik itu perlu disirami air hingga basah, lembab. Probiotiknya boleh dicampurkan ke dalam air siraman itu ataupun disiramkan secara sendiri. Yang jelas yang diperlukan dalam fermentasi itu adalah uap panas kimiawinya yang akan menguapi seluruh bagian yang tertutup sehingga semuanya menjadi pupuk kompos. Lebih rapat penutupannya akan lebih baik, misalnya sampah-sampah itu dimasukkan ke sebuah drum yang berpenutup;

Gambar terkait


SELAMAT MENCOBA RESEP DARI PADEPOKAN LEWI.

Comments

Popular posts from this blog

PROPOSAL KEGIATAN PADEPOKAN LEWI

JEMAAT KRISTEN YANG RIIL

MULAI MENANAM LELE