DUKUNG DAN SOKONGLAH PEKERJAAN TUHAN



Saya; Rudyanto, 56 tahun, asal Surabaya, lahir sebagai Kristen GKI. Keguncangan rumahtangga saya di tahun 2000 mengarahkan saya menyerahkan diri kepada TUHAN untuk melayani TUHAN di bidang penginjilan dengan berdasarkan kesadaran akan talenta saya, yaitu di bidang kerohanian. Maka saya mengikuti program Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh sebagai Tenaga Sukarela Pengembangan Masyarakat(TSPM). Tahun 2000-2002 saya ditugaskan di kota Ponorogo, tahun 2002-2004 di kota Ngawi. Di masa-masa itulah rumahtangga saya semakin runyam dan istri menuntut cerai. Puji TUHAN di tengah kegalauan jiwa itu saya dibimbing untuk semakin bulat penyerahan diri saya kepada TUHAN, bukan mengarah ke hal-hal yang negatif. Saya mengambil keputusan untuk menjadi penginjil independent yang tidak bergantung dan tidak menempel ke sebuah organisasi gereja manapun, melainkan menginjil berdasarkan apa yang ada tertulis di Alkitab, mengobarkan kembali jiwa Martin Luther yang menuntut jemaat Kristen kembali ke Alkitab. “Sola Scriptura” – Alkitab dan hanya Alkitab saja.

“Sola Scriptura” harus dimulai dari kehidupan pribadi saya, bahwa Kristen itu bukanlah tentang harta benda dan keduniawian lainnya. “Sola Scriptura” menuntut segala hal kedagingan ditinggalkan. “Sola Scriptura” menuntut suami-istri hidup rukun dan jangan sampai terjadi perceraian. Namun “Sola Scriptura” mengatakan jika bercerai sebaiknya tidak kawin lagi. “Sola Scriptura” menuntut semua orang pengikut YESHUA ha MASHIA membaktikan dirinya untuk memuliakan YESHUA ha MASHIA dan menjadikan semua bangsa muridNYA.

“Ikutlah AKU, akan KUjadikan penjala manusia”, kata ELOHIM YESHUA. Kita sudah dibeli dengan darahNYA, sehingga kita adalah milikNYA. Maka dari itu kita bukanlah untuk hidup kita lagi, melainkan hidup untuk MASHIA YESHUA, yang sudah menyelamatkan kita.

Sebagai penginjil saya sudah memulainya dari badan, bukan dari mulut. Saya memulainya dari mempraktekkan sendiri kehidupan “Sola Scriptura” itu bukan dari koar-koar dulu. Saya harus memberikan contoh dari apa yang saya sampaikan atau ajarkan ke orang lain supaya ajaran saya tidak disebut teori doank.

Semakin saya menikmati hadirat ILAHIAH, semakin tawarlah saya melihat segala hal keduniawian. Saya tahu apa artinya perempuan, saya tahu apa artinya seks, saya tahu apa artinya rumahtangga, saya tahu apa artinya pekerjaan-pekerjaan, saya tahu apa artinya kekayaan, dan saya juga tahu apa artinya uang. Karena itu saya sudah tidak lagi tertarik dengan semua hal itu. Sebab ketertarikan terjadi adalah karena ketidaktahuan, ketika semua hal itu masih dianggap misteri atau rahasia. Sama seperti ketika kita dari kejauhan melihat ada orang berkerumun, kita tertarik untuk mengetahui apa yang sedang dikerumuni oleh orang-orang itu. Semakin banyak orang yang berkerumun di situ semakin kuat dorongan keingintahuan kita sehingga kitapun mendekatinya. Nah, setelah mata kepala sendiri menyaksikan terjadinya kecelakaan di tempat itu, apakah kita masih memiliki ketertarikan? Wong sudah tahu, ya sudah selesai tertariknya.

Dari tahun 2004 hingga 2017 kemarin, saya hidup dalam pengembaraan dari desa ke desa dan dari kota ke kota. Saya beritakan Injil secara door to door, dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren lainnya; dari tahun 2004-2007. Tahun 2007 saya mulai mengenal dunia internet, maka sejak itu hingga tahun 2014 saya memberitakan Injil melalui Yahoogroups.com. Ketika fasilitas moderator di Yahoogroups.com mulai semakin dibatasi, saya beralih ke Facebook hingga tahun 2017. Ketika peraturan di Facebook semakin ketat, saya beralih ke Google Plus hingga sekarang ini.

Saya mengenal pak Sonny Saragih, redaksinya Pustakalewi.net, melalui Yahoogroups.com di tahun 2012, kemudian di tahun 2014 bertemu muka dan sempat tinggal di rumahnya selama seminggu. Lalu Agustus 2017 yang lalu bertemu kembali dan saya ditawari untuk merintis berdirinya Padepokan Lewi di Desa Ngrimbi, RT 01/RW 01, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sehubungan dengan hibahan tanah dari bapak Linggardjati kepada Perhimpunan Pustaka Lewi, pimpinan bapak Sonny Saragih.

Perhimpunan Pustaka Lewi diberi amanah untuk mendirikan sebuah padepokan untuk tempat tinggal para orangtua yang ingin mendapatkan ketenangan bathin dan mendalami hal-hal spiritual. Dan kami ingin Padepokan Lewi itu menjadi pusat pelayanan kerohanian, di mana para penghuninya bisa menjadi tuan rumah yang siap memberikan pelayanan sosial sesuai dengan pengalaman dan talenta masing-masing, sehingga Padepokan Lewi bisa menjadi rujukan setiap orang yang membutuhkan layanan berbagai problem kemasyarakatan.

Sebagai penopang hidup dan perekonomian para penghuni, Padepokan Lewi bercita-cita untuk menjadi pusat pertanian dan peternakan, baik untuk konsumsi sendiri maupun diberkatkan ke masyarakat sekitar. Yah, jika hasil pertanian dan peternakan kami melimpah-ruah, apa dosanya jika itu dibagi-bagikan ke warga masyarakat yang membutuhkan secara gratis?! Mau sayur? Mau ikan Lele? Silahkan ambil sendiri. Dari masyarakat kembali ke masyarakat. Jika asalnya kami disumbang orang biarlah hasil sumbangan itu kami sumbangkan ke orang lainnya lagi. Bukankah itu konsep pelayanan sosial yang sebenarnya, di mana menjadikan diri ini sebagai jembatan dari si kaya kepada si miskin?!

Pak Sonny Saragih meminta saya untuk merintis jalan ke arah sana, supaya saya di sini sekarang ini mempelajari dan mendalami pertanian dan peternakan yang dikelolah secara alamiah, bukan secara pabrikan, supaya bisa tercipta sebuah ekosistim yang mentakjubkan. Saya diminta untuk merancang disain kehidupan di Padepokan Lewi yang nantinya akan dikaitkan dengan disain pembangunan fisiknya.

Nah, untuk sebuah rencana besar tentunya dibutuhkan juga anggaran yang besar. Tapi untuk yang besar-besar itu biarlah menjadi urusan atau bagian Perhimpunan Pustaka Lewi. Saya di sini biarlah mengurusi hal yang kecil-kecil sebagaimana acaranya yaitu belajar dan membuat rintisan. Karena itu saya tidak mengharapkan yang besar-besar dari anda melainkan hanya mengharapkan remah-remah dari meja anda, yaitu jika ada sisa-sisa anggaran yang sekiranya bisa anda ikhlaskan untuk operasional saya di sini. Seberapapun yang anda berikan untuk operasional saya benar-benar saya hargai dan memang sangat berharga, menjadi sebuah amanah dari ELOHIM YESHUA untuk saya manfaatkan secara maksimal. Bukan untuk membeli baju, juga bukan untuk membeli ayam goreng, apalagi untuk hidup berfoya-foya. Semua aktifitas saya selalu sepengetahuan kepemimpinan bapak Sonny Saragih.

Jika proposal ini bukan suatu dosa, dan partisipasi anda bukan suatu dosa, salurkan partisipasi anda ke rekening Pustaka Lewi; Bank JATIM: 0322810296, lalu beritahukan ke saya: Rudyanto, melalui HP: 082139840290, atau WhatsApp: 089622057770, atau E-mail: puteragembala_pg1@yahoo.co.id

Demikian, saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih.

Link Padepokan Lewi:

Comments

Popular posts from this blog

PROPOSAL KEGIATAN PADEPOKAN LEWI

MULAI MENANAM LELE

MENUJU PADEPOKAN LEWI